Rumah itu tampak sepi dari luar. rumah mungil yang hanya berisi tiga
orang. Sekilas sunyi tapi kehangatan menyeruak dari dalam rumah berpagar
bambu sederhana itu.
“Bunda, Tera mau ketemu Ayah”. Lentera, 10 tahun merengek manja pada ibunya.
“Iya, Bunda. Aku juga mau”, sahut Cahaya adiknya yang hanya selisih 2 tahun.
Sang bunda menghela nafas panjang.
“Bunda bukan tak membolehkan kalian bertemu ayah, sayang.. tapi waktunya belum tepat”.
Jawaban
bunda kali itu rupanya membuat Lentera dan Cahaya kecewa. Dengan segera
mereka memasang muka cemberut. Cahaya tampak menggemaskan dengan pipi
chubby nya yang makin bulat ketika ia cemberut. Bunda ingin tertawa
kalau saja ia tidak ingat bahwa mereka sedang berbincang hal penting.
Buru-buru dipasangnya wajah serius.
“Halooo, kenapa kalian
cemberut begitu ? sedih ya ? Nanti kalian juga akan bertemu ayah suatu
saat kelak”, Bunda mengacak-acak rambut Lentera dengan sepenuh sayang.
Kemudian dijawilnya pipi montok Cahaya.
“Tera mau sekarang. Tera mau minta dibeliin baju baru sama ayah. Tera juga mau nunjukin kalau nilai raport Tera bagus, Bunda.”
Kali
ini Bunda menatap lekat wajah anak-anaknya. Sekecil itu mereka sudah
tidak mengenal sosok ayah. Mas Indar kabur dengan wanita lain ketika
anak-anak balita. Sekarang lentera sudah kelas 6 SD dan Cahaya kelas 4.
Sekali
lagi bunda menghela nafas dan kali ini menatap layar HP di
genggamannya. Sebaris pesan singkat memenuhi layar telepon genggamnya
itu.
“saya minta kalian jangan pernah ganggu keluarga saya
lagi. Mas Indar sudah berkeluarga. Saya gak mau harta suami saya habis
digerogoti oleh kalian. Lagipula, anak-anak itu bukan anak-anak saya.
Jadi tolong jauhkan mereka dari suami saya.”
Ada yang meleleh memanas dari mata bunda. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, Lentera dan Cahaya mulai menangis.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar