hujan datang di musim ini, di penghujung bulan desember yang basah oleh
gerimis hati. hadirnya tak pernah ternikmati oleh mereka yang berhati
bagai batu. selalu perih namun hujan senantiasa datang dan datang lagi
dengan setianya. tak peduli dimana kapan dan bagaimana......
keyakinannya terpegang erat dalam dekapan mendung kelabu di atas awan.
"aku
juga ingin dianggap ada", demikian suatu kali hujan berbisik pada angin
yang berhembus disela-sela gedung tinggi dan belukar alam raya.
"kau
ada, namun tak setiap jiwa bisa merasanya", jawab angin acuh tak acuh
seraya terbang membumbung tinggi menembus langit gelap. melayang menyapa
pohon, sungai, hutan, gunung,dan entah apa.
perih menghujam
hujan kala kehadirannya tak senantiasa diharap.. dipaksa berucap namun
hanya kelu yang terluap. pengap................cuma senyap.
hujan
menangis dan menangis semakin hebat. jiwanya gemetar semakin kuat.. ia
seperti di tarik paksa untuk hadir di suatu tempat...dan dijejali semua
kata keramat yang ia tak mampu melumat.
perih..perih..perih......jiwanya merintih........
"menyingkirlah
hujan ! agar tak ada lagi jiwa yang tersakiti oleh mu.... pergilah
sejauh mungkin karena tempat yang kau kunjungi hanyalah fatamorgana,
oase semu di tengah kemarau panjang yang tak terelaki.......!!!!" usir
sebuah suara tanpa rupa .
airmata hujan membanjir serupa bah,
berteriak tanpa suara..menangis sekuat tenaga hingga membenamkan seluruh
kota dengan airnya yang bergejolak..marah......
kemudian...tangisannya perlahan senyap.....
"tolong aku....." ujarnya lirih....sedemikian lirih hingga tak ada yang mampu mendengarnya bahkan hatinya sendiri.
(
Sementara itu ditempat terpisah...sesosok tubuh terpaku melihat hujan
yang mengamuk di luar jendela. sendirian disudut ruangan itu, menatap
lelehan hujan yang menetes. Hujan ada diluar, tapi dia pun merasai
tetesan yang sama mengalir di pipinya. dan Dia begitu membenci hujan
saat itu, begitu membencinya....)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar