Dear, Sayang ...
Sudah lima malam aku selalu terjaga hingga jelang pagi. Hanya sempat
tertidur barang 1-2 jam untuk kemudian kembali bangun dan melakukan
rutinitas persis seperti malam sebelumnya. Menggendong, mengompres,
mengganti diapers setiap dua jam sekali, menyuapi obat dan memasukkan
ASI pipet demi pipet ke dalam mulut mungilmu agar dirimu tidak
dehidrasi. menyenandungkan shalawat plus dzikir pagi dan sore. Begitu
terus, dari waktu ke waktu. Bahkan untuk sekadar beristirahat di sela
waktu tidurmu pun aku tak lagi sempat, karena justru ketika kamu
tertidur, saat itu pulalah aku bisa mencuri waktu untuk kembali
menghadap layar laptop dan mencoba menuntaskan segala pekerjaan yang
sudah mepet deadline. Meski, sungguh sulit melakukannya. Karena baru
saja tangan ini hendak mengetikkan kata demi kata, kau menggeliat dalam
tidurmu dan kembali merengek. aku pun harus meninggalkan segalanya dan
kembali ke sisimu, sekadar membetulkan letak selimut atau
menyenandungkan lagu kesayanganmu.
Dear, Sayang ...
sungguh, aku tak hendak mengeluh atau jenuh.
Karena aku tahu, hanya akulah satu-satunya sahabatmu di saat seperti
ini. Menatapmu yang meredup, kuyu dan layu, ada perih menjelma nyata
dalam hatiku. sungguh, aku berharap sakitmu berpindah padaku. Namun
tidak, sebetulnya bukan itu yang kuharapkan. Aku hanya mengharap kita
SEHAT. Sehat, agar senantiasa dapat terus berpegangan tangan dalam diam.
Berjuang bersama seperti sediakala. Aku rindu padamu, sayang. Rindu
melihatmu tertawa ceria seperti seminggu yang lalu.
Ketika panasmu tak kunjung reda di hari kelima, aku membawamu ke
dokter. membungkus dirimu dalam selimut tebal dan seperti biasa, kita
berangkat membonceng ojeg. panasmu bahkan sanggup menebus tebalnya
selimut dan kurasakan hingga ke tulang sumsum. Maafkan aku, sayang. aku
tak bisa membawamu ke tempat yang jauh lebih layak. melihatmu terbaring
di ranjang klinik sederhana itu, tangisku membuncah tak bisa kutahan,
meski tersendat kukeluarkan karena rasa malu. mendengarmu keesokan
harinya harus kubawa ke laboratorium untuk dites darah, membuatku pun
tak lagi bisa menyembunyikan airmata. wahai sayang, dirimu baru lima
bulan yang lalu kulahirkan! tubuhmu pun masih begitu ringkih, dengan
berat yang menurun drastis kali ini. Hanya 6 kilo, dan harus disakiti
oleh jarum suntik ? rasanya sungguh tak tega. aku tak tega ... :'(
Tapi aku tak pantas menangis. Bahkan bunda-bunda yang lain pun
banyak yang mengalami cobaan jauh lebih dari ini, namun mereka begitu
tabah menghadapinya. Mengapa aku harus cengeng ? Aku harus kuat ! kuat
demi kamu, demi kakak-kakakmu, demi kita, sayang ....
Karenanya, aku memohon, bertahanlah .... meski aku tahu, sakitmu tak
mampu kau ucapkan. nyerimu tak mampu kau ungkapkan. hanya sorot mata
dan rengekan manjamu yang aku pahami, bahwa kamu menderita.
Jelang hari keenam, demammu masih saja tak kunjung menurun. Meski
obat-obatan yang harus kau minum nyaris habis dan segala herbal telah
kuberi. maafkan aku sayang, karena tak bisa memberimu ASI eksklusif
hingga tepat enam bulan pertama kehidupanmu. terpaksa aku harus
membiarkanmu mencicipi yang lain selain asi. maafkan .... maafkan aku
sayang. setelah ini, kita berjuang lagi ya..
Sekarang, kumohon kuatlah kau seperti nama tengahmu, TEGAR. Sampai
kesembuhanmu tiba, aku akan terus berada di sisimu, tak sedikitpun akan
beranjak. malam-malam panjang sendiri menemanimu dalam sunyi, aku harap
doaku terdengar olehmu, sayang. yang kuat ya? sabar, sabar .. insya
Allah sebentar lagi pasti sembuh. Allah pasti akan segera memberimu
nikmat sehat seperti dulu. kita hanya harus yakin dan berdoa. Mari,
genggam tangan ibu dan berdoa bersama.
Maafkan aku, karena tak bisa menulis dengan lebih cantik dan lebih
layak buatmu. Karena waktuku sangat singkat, karena kamu sudah keburu
memanggilku meski sangat lirih. Ya Allah, kemana tangisanmu yang lantang
seperti dulu? tatapanmu kini kosong, tanpa cahaya. Izinkan aku
menangis, sayang ... meski aku tau, kamu tak akan suka melihatku
menangis. menangis tandanya cengeng, dan aku tak boleh cengeng. menangis
tak bisa menyelesaikan segala masalah. menangis hanya akan membuat aku
lemah. iya kan, sayang?
aku juga tak ingin sakit. aku hanya ingin kamu sembuh. titik. harus
sembuh. sembuh, sembuh dan sembuh. no compromise. aku tak boleh sakit,
karena aku harus berjuang demi kamu, sayang. kamu pun harus berjuang!
jangan pernah mogok minum lagi seperti ini, jangan pernah menutup
mulutmu rapat-rapat saat aku hendak menyuapimu sesendok demi sesendok
air. kamu harus minum, kamu harus mengisi tubuhmu supaya penyakit itu
segera menyingkir jauh-jauh. kita tak ingin kamu harus menginap di rumah
sakit kan sayang? iya kan?
Dan aku, tak mampu menyuarakan ini padamu. karena aku tau, kamu pun tak akan mampu menjawab suaraku ....
sudahlah, sebaiknya kita lupakan saja segala keluh. kita berbagi tugas saja.
Tugas utamamu adalah BERTAHAN. Tugas yang lainnya, serahkan padaku.
Seribu maaf dariku,
Ibumu.
(Bandung, 10 November 2012, 00.33)
teruntuk sayap ketigaku, Giffan Tegar Abdirrahman. Hari ini adalah
hari Pahlawan. Tugas pahlawan adalah berjuang, dan kamu sedang berjuang.
kamu adalah pahlawan, setidaknya bagi ibu, dan kedua kakakmu. MERDEKA!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar